Minggu, 21 Oktober 2007

Yaa Allah

Kami berpikir dapat hidup sepuluh, dua puluh tahun lagi, atau mungkin lebih. Kami membuat ancang-ancang mengejar dunia, seperti pelari cepat dalam suatu kejuaraan. Kami mengejar piala keduniawian: Harta, jabatan, nafsu, dan kehormatan --tak peduli jika harus dengan fitnah, pertikaian, bahkan mencelakakan yang menghalangi. Kami sangat mencintai dunia, seakan dunia sumber dari segala kebahagiaan. Kami melahirkan banyak tuhan dari nafsu yang kami ciptakan.
''Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang mati)? Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu rusak binasa.'' (QS Al-Anbiyah 21-22).
Ya Allah ... kami begitu hina. Bertengkar atas nama kebebasan. Menghujat orang lain, seakan kami paling benar dan suci. Merasa dapat melakukan apa saja, meraih apa saja dengan kedua tangan dan sepasang kaki kami, dengan kehebatan pikiran kami. Segala apa yang telah kami peroleh, kami anggap karena kerja keras dan kehebatan kami. Padahal, dari mana kedua tangan dan kaki itu, dari mana sumber pikiran dan kerja keras itu? Tidakkah hanya dalam hitungan detik, kedua tangan dan kaki kokoh itu dapat terlepas? Pikiran yang cerdas itu bisa pula hilang tanpa bekas.Ya Allah ... kini tinggallah kami dalam kebodohan, kesombongan, kenistaan, pertikaian, dan tidak bisa bersyukur. Kami beranggapan besok masih ada waktu untuk sujud, untuk meminta ampunan-Mu, seakan kami dapat menunda kematian, seakan kematian tunduk pada kehendak kami.
Ya Allah, kami tersesat, jauh sekali